Sabtu, 13 Juli 2024

Breaking News

  • Penyebab Sulitnya Ucapkan Kalimat Tauhid saat Sakaratul Maut   ●   
  • Pemko Pekanbaru Pecat Sepihak THL, Gaji Juga Tak Dibayarkan   ●   
  • BPJN Riau Bakal Datangkan Jembatan Bailey Atasi Jalan Rusak Pasca Abrasi di Inhil   ●   
  • Serahkan SK PPPK di Lingkungan Pemprov RIau, PJ Gubri Siapkan Beasiswa bagi Guru   ●   
  • Peringatan Hari Bhakti Adhyaksa di Kejati Riau Tahun Ini Terasa Lebih Spesial   ●   
Gaji ART di Hongkong, Bisa Bangun Rumah
Sabtu 06 Juli 2024, 10:46 WIB

JAKARTA (Tabloidrakyat) - Hongkong merupakan salah satu negara bagian dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Meski menjadi bagian Tiongkok, Hongkong mendapat otonomi khusus sendiri dari Pemerintah Tiongkok untuk segala hal, kecuali untuk pertahanan dan pemerintahan. Sehingga, Hongkong memiliki mata uang dan bendera sendiri. Begitu juga sistem ekonominya kapitalis dan sangat berbeda dengan Tiongkok.

Selama ini Hongkong menjadi salah satu tujuan Warga Negara Indonesia (WNI) diaspora untuk menetap. Menurut data Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk Hongkong dan Makau, terdapat 200 ribu WNI yang tinggal di Hongkong. Sebanyak 165 ribu di antaranya merupakan pekerja migran.

Konjen RI untuk Hongkong dan Makau Yul Edison mengatakan, rata WNI yang tinggal di Hongkong berprofesi sebagai asisten rumah tangga (ART). Mereka umumnya berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Meski berprofesi sebagai ART, namun WNI itu mendapatkan penghasilan yang cukup lebih baik, meskipun itu jauh di bawah upah minimum regional (UMR) Hongkong.

Para ART setiap bulannya itu mendapat gaji bersih sekitar HKD 5.000. Pendapatan itu ditambah dengan uang makan HKD 1.200. Total HKD 6.200. Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs HKD 1 sama dengan Rp 2 ribu. Maka, pendapatan bersih itu ada Rp 10 juta per bulan. "Uang itu bersih. Kalau uang makan kadang dalam bentuk uang, ada pula dalam bentuk yang diberikan oleh majikannya," ungkap Yul Edison saat ditemui JawaPos.com di Hongkong akhir Juni lalu.

 

Menurut Yul Edison, upah yang diterima masih rendah dengan upah pekerja formal di Hongkong. Namun, karena ART itu sudah mendapat tempat tinggal dan makan dari majikannya, maka mereka bisa menabung dan berkirim ke kampung halaman. "Ada yang bisa bangun rumah di kampung halaman dengan gaji sebanyak itu," ujar Konjen berdarah Minang itu.

Konjen yang pernah bertugas di Moskow itu mengatakan, isu perburuhan sangat mendapat pengawalan dari NGO di Hongkong. Sehingga para WNI yang menjadi PMI di Hongkong mendapatkan hak yang layak bekerja di Hongkong. Dalam sepekan

mereka berhak mendapat libur sehari.

Biasanya libur itu diambil para hari Minggu. Umumnya para WNI di Hongkong berkumpul di Victoria Park. Bahkan taman itu berasa di Indonesia, karena saking banyaknya WNI ditemukan di sana. Setiap ada isu-isu buruh di Hongkong, maka NGO setempat akan kritis. Mereka sangat membela hak-hak para pekerja. Baik pekerja domestik maupun diaspora.(jpg)

 

Sumber:riaupos.com




Untuk saran dan pemberian informasi kepada tabloidrakyat.com, silakan kontak ke email: tabloidrakyat@yahoo.com


Komentar Anda


Copyright © 2023 Tabloidrakyat.com - All Rights Reserved
Scroll to top