Selasa, 27 Februari 2024

Breaking News

  • Pemkab Siak Akuisisi TK Swasta jadi TK Negeri di Pusako   ●   
  • Pekan Ini, Harga Karet di Kuansing Naik   ●   
  • Bupati Zukri Jalani Wawancara dan Presentasi Nominator Patriana Award 2024   ●   
  • Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Kota Dumai Sambut Baik Program DMPG   ●   
  • Tunjuk SF Hariyanto sebagai Pj Gubernur, LAM Riau Apresiasi Presiden   ●   
Hasil ST2023 dan Prospek Perekonomian Riau di Tengah Krisis Global
Jumat 08 Desember 2023, 08:50 WIB

(TABLOIDRAKYAT)-ST2023 adalah singkatan dari Sensus Pertanian 2023. ST2023 merupakan Sensus Pertanian ke-7 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dimana Sensus Pertanian pertama dilaksanakan pada tahun 1963, dan seterusnya dilakukan setiap 10 tahun sekali pada tahun yang berakhiran 3.

Sensus Pertanian ditengah Krisis Global

Menjelang akhir tahun 2022 yang lalu, banyak kalangan memprediksi bahwa dunia akan menghadapi ancaman krisis, baik ekonomi, politik maupun keamanan.

"krisis ekonomi 2023 diprediksi sangat berat,” begitu pernyataan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani dalam Seminar Nasional Badan Keahlian Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jumat (21/10/2022).

Pernyataan prediktif Menteri Keuangan saat itu sejalan dengan prediksi beberapa pihak atau pengamat lainnya.

“Bagi banyak orang, 2023 akan terasa seperti resesi," cuit kepala ekonom IMF Pierre Olivier Gourinchas pada Selasa (11/10/2022) ketika ia menguraikan perkiraan ekonomi global yang suram.

“Situasinya sulit, tapi kita bisa menghadapi tantangan ini," kata Kristalina Georgieva, direktur pelaksana IMF, kepada para hadirin dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia selama sepekan di Washington.

"Saya menggambarkan kondisi dunia yang kita tinggali saat ini sedang dilanda 'perfect storm' atau badai yang sempurna. Semua negara dalam kondisi tidak baik-baik saja, mulai negara berkembang hingga superpower sekalipun," ungkap Luhut dalam catatan panjang yang diunggah di akun Instagram resminya @luhut.pandjaitan, dikutip Minggu (6/11/2022).

Prediksi akhir tahun 2022 diatas seperti dipertegas oleh prediksi beberapa pihak pada awal tahun 2023 ini. Salah satunya seperti dinyatakan oleh Presiden Jokowi dalam Perayaan Hari Ulang Tahun PDI Perjuangan yang ke-50, Selasa (10/1/2023). Pada kesempatan tersebut, Presiden Jokowi menyatakan: "Disampaikan IMF, tahun 2023 sepertiga ekonomi dunia akan mengalami resesi,", lebih lanjut Presiden Jokowi menyatakan: "Dan untuk negara negara yang tidak terkena resesi ratusan juta penduduknya akan  ikut merasakan dampak akibat negara yang mengalami resesi.”

Prediksi dari beberapa kalangan itu didasarkan oleh banyak faktor, di antaranya dunia yang sedang tahap recovery pasca krisis COVID-19, juga invasi Rusia ke Ukraina yang secara langsung maupun tidak mengeskalasi situasi sosial politik dan ekonomi dunia karena keduanya merupakan produsen komoditas strategis seperti gas dan gandum.

Sepanjang 2023, seperti prediksi-prediksi di atas, situasi negara-negara di dunia belum sepenuhnya membaik, bahkan di beberapa negara situasinya semakin memburuk. Dari segi keamanan, titik perang di dunia bukan semakin mereda, tapi justru semakin berkembang ke berbagai kawasan. Perang Rusia-Ukraina masih terus berlangsung, ikut meyeret negara-negara sekutu Rusia ataupun sekutu Ukraina untuk terlibat, yang akhirnya berdampak terhadap situasi sosial ekonomi negara-negara itu.

Jelang medio 2023, eskalasi konflik juga terjadi di kawasan Taiwan, yang menjadi proxy perang supremasi antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Masih di medio 2023, eskalasi konflik global merembet ke kawasan Afrika, terutama di Sudan dan Nigeria. Memasuki Oktober 2023, titik eskalasi perang kembali menyala di Palestina.

Hampir tidak ada kawasan benua yang luput dari gelombang krisis keamanan. Seraya tetap berdoa agar titik-titik konflik ini segera mereda, akan tetapi sejauh ini konflik-konflik tersebut telah membuat perekonomian banyak negara mengalami krisis, sebagaimana yang sudah diprediksikan oleh banyak kalangan akhir tahun 2022 yang lalu.

Hal ini tercermin dari perkembangan harga barang-barang di banyak negara yang mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Hal ini tercermin dari tingkat inflasi di beberapa negara. Mengacu kepada data dari Trading Economics, pada bulan Juli 2023 secara year on year (yoy) di kawasan Eropa hampir semua negara besar di sana mengalami inflasi di atas 5 persen. Seperti Inggris Raya sebesar 6,8 persen, Jerman sebesar 6,2 persen, Italia 5,9 persen, Australia yang secara politik dan ekonomi selalu berafiliasi kepada Eropa juga mengalami inflasi sebesar 6,0 persen. Bahkan Turki mengalami inflasi sampai 47,8 persen.

Sementara di kawasan Asia inflasi pada bulan Juli relatif masih lebih terkendali dibandingkan Eropa, dengan inflasi umumnya berada di bawah 5 persen secara yoy, kecuali India yang mengalami inflasi sampai sebesar 7,4 persen.

Sawit dan CPO, Komoditas Andalan Perekonomian Riau

Kelapa sawit adalah komoditas unggulan dalam perekonomian Riau, terutama selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Hal ini terlihat dari semakin dominannya sektor pertanian dalam perekonomian Riau, terutama pada sub sektor perkebunan. Di tahun 2022, PDRB Riau tercatat sebesar Rp. 991,59 triliun atas dasar harga berlaku. Dari nilai PDRB sebesar itu, 3 sektor utama yang memberikan share terbesar adalah sektor industri pengolahan sebesar 27,37 persen, sektor pertanian sebesar 24,70 persen dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 23,42 persen.

Dari share sektor pertanian sebesar 27,37 persen dari PDRB pada tahun 2022, sub sektor perkebunan menjadi komoditas yang dominan. Begitu juga dengan sektor industri pengolahan yang memberikan share sebesar 24,70 persen terhadap PDRB pada tahun 2022, mayoritasnya disumbang oleh sub sektor industri makanan dan minuman yang didominasi oleh industri CPO dan turunannya.

Strategisnya sektor pertanian/perkebunan dan industri pengolahan berbasis komoditas pertanian/perkebunan juga tercermin dari  serapan tenaga kerja yang bekerja di lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan mencapai 40,59 persen menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilaksanakan pada bulan Februari 2023 yang lalu.

Perekonomian Negara Tujuan Ekspor Riau

Dari sisi PDRB menurut pengeluaran, perekonomian Provinsi Riau didominasi oleh komponen ekspor, pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB).  Mengacu kepada PDRB Triwulan III 2023, ekspor menjadi komponen terbesar dalam pembentukan PDRB menurut pengeluaran, yaitu sebesar  38,99 persen, disusul oleh komponen pengeluaran rumah tangga sebesar 33,94 persen dan komponen PMTB sebesar 31,13 persen.   

Ekspor Riau sendiri tercatat pada kondisi Januari-September 2023 mencapai $ 14,10 milyar. Dari nilai ekspor sebesar itu, $ 12,94 miliarnya disumbang oleh ekspor non Migas, atau sebesar 90,06 persen ekspor Riau disumbang oleh ekspor non Migas. Dari nilai ekspor non Migas sebesar $ 12,94 miliar tersebut, $ 7,14 miliarnya disumbang oleh komoditas lemak dan minyak hewan/nabati yang mayoritasnya berasal dari produk CPO.

Jika dilihat tujuan ekspor berdasarkan kawasan, ekspor Riau periode Januari-September 2023 ke kawasan negara-negara ASEAN sebesar  16,31 persen, ke kawasan Uni Eropa sebesar 12,53 persen, kawasan negara utama lainnya (Tiongkok, India, Amerika Serikat, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Korea Selatan dan Jepang) sebesar 54,13 persen dan kawasan lainnya sebesar 24,81 persen. Pada periode yang sama, jika dilihat secara lebih rinci menurut negara tujuan, maka ada 5 negara tujuan ekspor terbesar dari komoditas ekpsor Riau, yaitu Tiongkok sebesar 21,88 persen, India sebesar 12,99 persen, Malaysia sebesar 7,01 persen, Amerika Serikat sebesar 5,53 persen dan Vietnam sebesar 3,93 persen. Ke 5 negara tujuan ekspor Riau ini menyumbang lebih dari 50 persen dari nilai ekspor Riau pada periode Januari-September 2023.

Ke 5 negara tujuan utama ekspor Riau selama periode 2023 ini kondisi perekonomiannya relatif cukup baik. Hal ini tercermin paling tidak dari 2 indikator makronya, yaitu indikator inflasi yang mencerminkan fluktuasi harga dan indikator pertumbuhan ekonominya. Dari sisi inflasi di bulan September 2023, China mengalami deflasi sebesar 0,2 persen, India mengalami inflasi sebesar 4,87 persen, Malaysia mengalami inflasi sebesar 1,8 persen, Amerika Serikat mengalami inflasi sebesar 3,2 persen dan Vietnam mengalami inflasi sebesar 3,59 persen.

Inflasi untuk komoditas pangan pada negara-negara tujuan ekspor Riau ini juga relatif masih terkendali, dimana pada bulan September 2023 China mengalami deflasi pangan sebesar 3,20 persen, kemudian India mengalami inflasi pangan sebesar 6,62 persen. Selanjutnya Vietnam, Amerika Serikat, dan Malaysia masing-masing mengalami inflasi pangan sebesar 2,81 persen, 3,7 persen, dan 3,9 persen.

Sementara jika diukur dengan indikator pertumbuhan ekonomi, maka pada periode triwulan III 2023 China tumbuh sebesar 4,9 persen, India tumbuh sebesar 7,8 persen, Vietnam tumbuh sebesar 5,33 persen, Malaysia tumbuh sebesar 3,3 persen, dan Amerika Serikat tumbuh sebesar 2,9 persen.  Jika diukur dari indikator inflasi dan indikator pertumbuhan ekonomi, secara umum bisa disimpulkan bahwa kondisi perekonomian negara-negara tujuan ekspor Provinsi Riau relatif cukup baik dan terkendali.

Petani Perkebunan Meningkat dan Peluang Penguatan Perekonomian Riau

Sensus Pertanian (ST) 2023 hasilnya sudah dirilis pada 4 Desember 2023 yang lalu. Dari rilis tersebut diketahui bahwa usaha pertanian di Provinsi Riau mengalami peningkatan dibandingkan hasil ST2013 10 tahun yang lalu. Jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) di Provinsi Riau sebanyak 728.647 unit, atau naik 6,44 persen dari tahun 2013 yang sebanyak 684.573 unit. Jumlah Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (UPB) di Provinsi Riau sebanyak 322 unit, naik 24,81 persen dari tahun 2013 yang sebanyak 258 unit. Jumlah Usaha Pertanian Lainnya (UTL) di Provinsi Riau tahun 2023 sebanyak 272 unit, naik 161,54 persen dari tahun 2013 yang sebanyak 104 unit.

Dalam skala usaha pertanian perorangan yang berbasis masyarakat, walaupun secara agregat mengalami kenaikan selama 10 tahun terakhir, tapi apabila di breakdown menurut subsektor, maka seluruh subsektor mengalami penurunan jumlah pelaku usaha pertaniannya, kecuali subsektor perkebunan. Artinya karakteristik pertanian di Provinsi Riau selama 10 tahun terakhir semakin homogen didominasi oleh subsektor perkebunan, khususnya komoditas kelapa sawit.

Meningkatnya petani perkebunan khususnya untuk komoditas kelapa sawit ini tentunya membuka peluang besar bagi Provinsi Riau untuk meningkatkan kinerja perekonomiannya ke depan, apalagi jika dikaitkan dengan kondisi perekonomian negara-negara tujuan ekspor komoditas CPO Riau relatif masih terjaga dan stabil di tengah gonjang-ganjing keamanan dan perekonomian global. Terlebih jika Provinsi Riau (note : tentu harus disupport oleh kebijakan di tingkat nasional) mampu merealisasikan program hilirasasi pertanian, khususnya untuk komoditas perkebunan, tentu akan memberi dampak luar biasa bagi peningkatkan kinerja perekonomian Riau ke depan. Semoga...

Sumber : Cakaplah.com




Untuk saran dan pemberian informasi kepada tabloidrakyat.com, silakan kontak ke email: tabloidrakyat@yahoo.com


Komentar Anda


Copyright © 2023 Tabloidrakyat.com - All Rights Reserved
Scroll to top